06 Juli 2008

Reuni SMAN 1 Sukabumi, IPA-84




Malam makin menyergap Jakarta tatkala kuinjak jalannya Minggu malam, 6 Juli 2008 sepulang dari reuni SMAN 1 Sukabumi Jurusan IPA tahun 1984. Begitu mengesankan momen itu. Karenanya, walau ada sedikit keringat yang masih menempel di tubuhku dengan guratan kelelahannya, lekas kuurai tulisan ini mumpung ada mood.

Mungkin MC yang kuperankan belum begitu sempurna bagi audience namun bagiku lumayanlah. Bersama Meity, sahabat sepanggung, kami berusaha tampil 'all out' siang di lapangan sekolah itu, kendati dengan persiapan cuma beberapa menit sebelum mulai, bergantian memandu paket-paket acara sesuai 'pesanan' panitia. Guru-guru pun ikut hanyut dalam 'chemistry' acara : Pak Lely, Eyang Achmadi, Pak Susilo, Pak Agus, Pak Sule, Pak Hasan. Juga ada Bu Tien (isteri alm. Pak Elom, mantan Kepala SMPN 2 Sukabumi), Bu Nus (isteri alm. Pak Nusyirwan Said, Guru Bahasa Inggris).

Tak sedikit yang baru kulihat lagi wajah-wajah sahabat setelah pisah sejak Juli 1984 dulu. Jadi kadang kuingat wajah tapi lupa nama atau kuingat nama tapi kok wajahnya yang ini he he he ... Begitulah acara pun usai digelar sekitar pukul 14 dengan buah : hiburan, sambutan guru dan wakil kepsek, bingkisan buat sekolah dan mesjid Bahrul Ulum, hadiah buat sahabat yang beruntung dapat undian door prize, menayangkan foto-foto 'jadul', pemilihan ketua baru pengurus alumni (terpilih Sdri. Irma Nurjanah) untuk 3 tahun ke depan, dan akan kumpul lagi pas lebaran atau selambatnya tahun depan seraya mengusung wacana kemungkinan membentuk koperasi/pengelolaan bisnis ...

Dan kami pun saling bersalaman di ujung acara, berharap masih ada perjumpaan lagi di sisa umur ini ...

28 Juni 2008

... dan ban pesawat pun meledak ...


.... Rabu, 25 Juni 2008, pukul 07.47 WIB, di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, pesawat Garuda Indonesia B737-300 (GA 550) yang kutumpangi sedang melaju kencang di run way menjelang take off. Tiba-tiba ..... dar!. "Wah, bannya meledak nih", gumam hatiku. Badan pesawat bergetar ditingkahi oleh bunyi rem mendadak, makin lama laju pesawat pun mereda dan terhenti sepi di belokan. Sekitar 100 meter dari landasan pacu.

Itulah sekelumit drama yang untuk kali pertamanya kualami seumur hidup. Alhamdulillah, puji syukur ke hadhirat Illahi karena sang pesawat beserta seluruh manusia di dalamnya tak kurang suatu apapun kecuali perasaan sedikit panik dan tegang saja. Untung bukan pecah ban saat landing, untung di Jakarta (yang landasan pacunya panjang dan segera bisa ganti pesawat Garuda cadangan yang stand by), untung belum sempat terbang, untung pilotnya profesional.

Kami pun dapat take off dan landing mulus di Palangka Raya, Kalimantan Tengah sekitar dua jam lebih lambat dari jadwal semula.

12 Juni 2008

...... guru-guru baru .......


Barangkali Anda telah mulai melihat betapa profesi Guru secara perlahan telah dilirik. Lulusan SMA/MA/SMK mungkin saja melirik Guru sebagai bidang pekerjaan yang menjanjikan masa depan. Benarkah??

Adanya Undang-undang Guru dan Dosen, program Sertifikasi Guru dan tunjangan Guru (bila lulus sertifikasi dan tunjangan oleh pemda) merupakan sejumlah pemicu yang menyedot perhatian publik masa kini. Jika 'trend' ini terus menggulir bak bola salju maka perlu ditangkap oleh para pengambil keputusan di republik ini. Presiden, gubernur, dan walikota/bupati, (pasca pemilihan langsung) 'seharusnya' memasukkan agenda penanganan Guru secara sungguh-sungguh ....

Caranya? Buat aturan agar guru-guru baru, pengganti yang pensiun, harus memiliki IP lebih dari sama dengan 3,0; bisa berkomunikasi dalam Bahasa Inggris/bahasa asing lainnya; melek Teknologi Informasi dan Komunikasi dll ... dll ... selain persyaratan administrasi yang sudah lazim. Tambahan kriteria tersebut (silakan ditelaah lebih lanjut jenis dan kualitas kriterianya) semata-mata untuk memperoleh figur Guru yang mumpuni sebagaimana tuntutan undang-undang atau ketentuan turunannya.

Diharapkan, agar guru-guru yang diperoleh secara selektif ini (sejauh mungkin hindari titipan dan sogokan) akan mendidik murid secara kreatif, inovatif, dan penuh pengabdian. Kelak para siswa akan menjadi betul-betul terdidik dan tidak asal lulus. Kelak para guru yang hebat ini akan menjadi kepala sekolah dan para pejabat yang mengelola pendidikan baik di kota/kab, provinsi, atau tingkat pusat. Pada akhirnya pada 5 - 10 tahun mendatang akan secara gradual namun pasti akan lahir generasi yang menjadi harapan Indonesia masa depan. Kita tak akan cape lagi dengan tuntutan 20% APBN dan APBD untuk pendidikan (di luar gaji guru dan pelatihan kedinasan) karena 'para penggodoknya' sudah berjuang lebih dulu. Tak akan ada dana mubazir karena bingung dengan 'bejibunnya' dana pendidikan yang dialokasikan 30% dari APBD, karena 'para eksekutornya' sudah cerdas merencanakan program-program pendidikan yang pro rakyat dan visioner (tidak ..... pro segelintir koruptor!).

Mungkin saja nanti guru-guru ini akan ditarik oleh publik untuk menjadi presiden, gubernur, walikota/bupati, camat, dan lurah. Lalu ...... asal saja mereka bisa kuat godaan (tahta, harta, wanita), mereka akan menyetir Indonesia ini secara rasional dan terprogram secara matang. Berbarengan dengan itu kerja mereka akan didukung oleh para lulusan yang brilian (sikap, keterampilan, dan pengetahuannya) pada semua lini profesi sebagai hasil didikan para guru yang cakap tadi.

Lho, lantas bagaimana dengan peran profesi lainnya (pengusaha, tentara, dokter, birokrat, supir/pilot, polisi, pengacara, dsb....) saat ini?. Don't worry, semua bisa berbuat dengan prinsip : kurangi dosa dan perbanyak kebaikan untuk sesama. Toh seluruh profesi kan hasil didikan guru juga. So, jika gurunya bagus insya Allah para siswanya akan bagus. Yang penting selama jantung berdenyut mari tebarkan benih-benih kesejukan di arena umat dalam mensyukuri nikmat-Nya.

Guru-guru yang ada sekarang tak pelu berkecil hati karena Tuhan sungguh amat adil. Mari berbuat yang terbaik untuk siswa kita kendati diakui masih begitu banyak problematika di sekitar kita. Tulisan ini hanya bermaksud untuk menggugah kita agar serius ..... sekali lagi serius dengan pengangkatan guru-guru baru karena makin banyak peluang untuk itu. Semoga ....