11 Agustus 2008

Diklat ToT by MCPM AIBEP







Tanggal 2 - 10 Agustus 2008, bersama 3 orang pengawas SLTP-SM dan seorang pejabat struktural pada Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Kota Palangka Raya telah kuikuti Training of Trainer Seri I program Whole School Development and Whole District Development se-Kalimantan Tengah di Hotel Hawaii Palangka Raya. Ada beberapa kabupaten yang diundang dalam hal mana setiap kabupaten diminta 5 orang calon pelatih untuk tingkat Kota/kabupaten.

Pada bulan Oktober 2008 selama seminggu akan dilatih kembali para peserta pelatihan sekarang sebelum diterjunkan untuk melatih personil tertentu di sekolah-sekolah yang baru dibangun dengan dana grant/hibah dari pemerintah Australia. Personil dimaksud adalah kasek, seorang guru, pengawas,komite sekolah dan perwakilan orang tua siswa.

Ada 16 materi pelatihan yang diikuti secara teoritis, praktis. Ada diskusi kelompok, pleno dan presentasi individual juga. Yang paling menarik adalah outbond. Lho? Soalnya baru sekarang ini ikut kegiatannya walau 'denger' istilahnya sih sudah lama. Foto outbond dan yang lainnya ya ..... seperti di atas itu. Asyiiiiiik lho!

Terus kalau MCPM AIBEP? Managing Contractor Program Management - Australia Indonesia Basic Education Program (MCPM-AIBEP) is to support system-wide capacity development related to improving quality assurance and governance and accountability systems and focus to support on working with Ministry of National Education (MONE) and Ministry of Religious Affairs (MORA).

Lebih jauh tentang hakikat program ini bisa diklik di sini dan di sini

09 Agustus 2008

Posisi .....



Posisi? Posisi apa sih? Ya, kalau diartikan sederhana bisa berarti tempat keberadaan sesuatu. Dapat berarti juga kedudukan. Atau letak sesuatu. Atau ..... masih banyak lagi maknanya.

Pada 'booming' pilkada/pilpres dewasa ini, kata 'posisi' menjadi begitu sakti. Ia dikejar oleh siapapun dengan motivasi apapun untuk yang namanya kekuasaan. Karena itu partai politik tiba-tiba saja menjamur dimana-mana sebab diyakini akan menjadi kendaraan super ajaib yang akan merubah nasib penumpangnya .... wush .... menjadi apapun yang diinginkan jika ... kekuasaan teraih. Artinya jika seseorang bisa meraih posisi bupati/walikota, gubernur, dan presiden maka dia bisa memainkan kata-kata 'sim salabim'. Bahkan hebatnya, seseorang yang berhasil meraih posisi puncak,akibat menang dalam pilkada/pilpres, akan dapat menarik banyak konco-konco tim suksesnya untuk bersama-sama menikmati kemenangan itu.

So, begitulah posisi diperebutkan banyak orang. Masalahnya, jika posisi itu ditaklukkan dengan keluar uang bejibun maka logikanya uang itu harus kembali. Sebaliknya jika posisi itu diraih dengan uang yang relatif sedikit maka boleh jadi si peraih kekuasaan tak begitu terayu nafsu untuk mengeruk uang sebanyak-banyaknya. Apa iyyyaaa begitu? Semuanya sih bergantung pada 'kapstok' (baca: pengendalian nafsunya).

Apapun memang tergantung sang niat. Kalau niatnya mulia, insya Allah kalbunya selalu teringat dengan niat itu - selama niatnya ikhlas dan selalu bersama kerumunan orang-orang 'baik' - untuk memikirkan nasib orang banyak yang kebanyakan belum tentu makan banyak alias hidup serba pas-pasan. Ya pas secara ekonomi, secara wawasan/pendidikan. Pas juga dari sisi pergaulan sehingga akses sosialnya terbatas. Begitulah akhirnya posisi akan dipertaruhkan untuk yang namanya empati dan simpati terhadap kehidupan masyarakat kelas menengah ke bawah. Kalau ingat kelas menengah ke bawah maka - walau mungkin pelu dikaji lebih jauh - otomatis akan turut mengangkat harkat hidup yang menengah ke atas. Kok bisa? Ya sebab kebutuhan primer orang 'bawah'(sandang dan pangan) bukankah juga dibutuhkan oleh orang 'atas'. Sebaliknya barang-barang mewah yang dikonsumsi orang 'atas' belum tentu akan bisa serta merta mampu dimiliki oleh 'orang bawah'.

Andai niat untuk meraih posisi itu semata-mata untuk pamer/kesombongan, cari duit dan aneka kenikmatan duniawi lainnya maka tentu ujung-ujungnya akan bisa ditebak. Dan kita pun barangkali akan dengan kasat mata melihat hal itu di sekitar kita. Betapa usai menikmati kursi hangat alias empuk bukan main, seseorang akan menikmati kursi panas yang bisa bikin pantat kebakaran.

Posisi itu pasti sedang kita tempati karena ia bukan cuma hadir di tataran ihwal politik praktis. Seorang karyawan, pengangguran, ibu rumah tangga, wartawan, tentara, ketua RW, pedagang, guru, birokrat dsb ...... adalah posisi juga.

Selamat menikmati posisi itu .... enjoy saja .... Eh, siapa tahu dalam minggu-minggu ini pun saya akan punya posisi baru. Ya Rabbi .... tempatkanlah hamba-Mu pada posisi yang senantiasa mengusung kebenaran menurut-Mu. Amin ....

Palangka Raya, pukul 22.25.
(Sengaja ditulis untuk penikmat setia blog ini, maaf agak telat nulis. Maklum sedang ikut diklat)

24 Juli 2008

... Kunjungan Pak Menlu ke SID ...




Tanggal 3- 5 Februari 2007, Menlu RI, Bapak Dr. Hasan Wirajuda berkunjung ke Damaskus, Suriah. Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama, KH. Hasyim Muzadi turut pula dalam rombongan. Di sela-sela kesibukannya, alhamdulillaah Pak Menlu bersama isteri sempat menengok Sekolah Indonesia Damaskus (SID).

Sebagaimana layaknya karakter seorang diplomat yang saya kenal selama ini, Pak Menlu memiliki pembawaan tenang, santun, dan ramah. Bagaimanapun, yang disandangnya adalah imej/wajah Indonesia di kancah pergaulan internasional.

Berita perjalanan Pak Menlu ke Suriah, selengkapnya dapat dibaca di sini.