19 Maret 2009

Bogor - Borneo - Jakarta


Penghujung September 1987 kuhirup hawa laut menuju Palangka Raya via Semarang dan Banjarmasin, diantar kedua orang tua, kedua nenek dan saudara-saudara. Singkat cerita, pekerjaan sebagai guru dan kepala sekolah telah kujalani di Kuala Kapuas dan Palangka Raya, Kalteng.

Senin,16 Agustus 2009, adalah the first day bekerja pada Asisten Deputi Pengembangan Sumber Daya Pemuda dan Hubungan Internasional, Deputi Pemberdayaan Pemuda, Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga di Jakarta. Kini kedua orang tua dan nenek kandung sudah wafat. Bapak, malah baru wafat tgl 9 Maret 2009 M/12 Rabi'ul Awwal 1430 H. Semoga Allah SWT melimpahkan keridhaan-Nya kepada arwah para almarhum/almarhumah. Amin ya rabb....

Alhamdulillah, 22 tahun mengembara dengan segala suka dukanya nan tiada tara nikmatnya.

11 Januari 2009

Menanti komandan SILN berikut.......

Dear all,

Cukup memikat surat Ses Ditjen PMPTK nomor 12626/F1/KP/2008 tanggal 24 Desember 2008 tentang Pemberitahuan dan Pemanggilan 25 Peserta untuk mengikuti Seleksi Tahap II di Jakarta. Surat ini memuat the best 25 kandidat kepala SILN (Sekolah Indonesia Luar Negeri)yang akan diseleksi lagi pada tanggal 13 – 15 Januari 2009 di Jakarta.

Bagaimana saya kok jadi terpikat, mari kita telisik sbb :
1. Dari 33 provinsi, hanya 14 provinsi yang mengikutsertakan peserta. Tiga provinsi padat penduduk di Jawa (Banten, Jabar dan Jatim) bahkan nihil. So, what’s up?. Berarti minim sosialisasi ya?. Sependek pengamatan saya, dari Ditjen PMPTK surat-surat itu sudah disebar ke Dinas Pendidikan Provinsi. Saya saja di Dinas Dikpora Kota Palangka Raya sudah menerima surat itu via Dinas Dik Prov Kalteng. Tapi memang ada sejumlah Dinas Dik Kab di Kalteng yang belum menerima surat tsb.
2. Ada dua prov yang terbanyak berpartisipasi (Jateng = 27 orang, Sulawesi Tengah = 23 orang) disusul Kalteng dan DKI, masing-masing 9 orang dan Gorontalo = 5 orang. Sisanya hanya mengirimkan 3 orang ke bawah.
3. Secara nasional ada gejala penurunan jumlah peminat dari tahun ke tahun secara signifikan. Memprihatinkan ........ alias sayang sekali. Tahun 2003 dulu (ketika saya ikut) ada 415 untuk mencari the best 10. Tahun 2006, kalau tak salah, yang ikut turun menjadi 300-an orang untuk memilih the best 9. Kini hanya 98 orang untuk menentukan the best 12 yang kelak akan ditempatkan di 12 SILN. Padahal saya tahu persis sekali, untuk seleksi ini insya Allah 100% murni (tak ada kolusi, nepotisme, main duit dll). Semuanya secara kompak berniat sama, ingin menempatkan figur kepsek yang betul-betul kompeten dengan cara yang sangat fair! Suatu hal yang perlu terus dilestarikan karena KEJUJURAN di republik ini masih merupakan barang mahal dan langka (makanya belakangan di mana-mana rajin dibuka kantin kejujuran terus di-blow up media ha ha ha ....).
4. Jateng, selain dominan sebagai prov terbanyak pesertanya, juga tak tanggung-tanggung mampu meloloskan 8 orang putera terbaiknya untuk bertarung pada seleksi babak ke-2. Setelah itu ada Sulawesi Tengah (5), DKI (4), Kaltim (3), Kalbar (2), Kalteng (1), Sumbar (1) dan Lampung (1). Nah, Lampung itu heibaaat .... mengapa? Hanya mengikutkan 1 orang peserta dan langsung tembus ke 25 besar. Kalau dari Kalteng sendiri? Alhamdulillah Pak Muchlis, Kepala SMK Negeri di Pangkalan Bun masuk 25 besar. Bangga dong kawan se-prov masuk babak semi final he he he ....... He’s an english teacher! Nah lo, jangan-jangan yang lolos masuk 25 besar ini rata-rata guru Bahasa Inggris atau pernah kuliah S.2 atau kuliah di LN?

Selamat untuk jajaran Ditjen PMPTK yang tetap konsisten melanjutkan tradisi seleksi yang sangat bagus ini. Kita nantikan siapa saja yang lolos ke 12 besar. The last but not least, this excellent selection method also should be applied to seek the selected teachers! Is that right?. Pak Yukon, Pak Nirwan, would you mind trying to propose this opinion?. We’re waiting for that soon.....

Brothers, seleksi memang tak menjamin 100% bahwa SILN akan langsung berkilau karena begitu banyak faktor x di SILN. Belum lagi barangkali faktor y di Depdiknas dan mungkin faktor z di Deplu. Maksudnya, demikian tak sedikit aspek yang layak dicermati dan ditata kalau SILN ingin berkualitas. However, kita perlu, sekecil apapun, terpikat dengan fenomena sekitar yang merunduk dan khidmat pada keadilan, kejujuran dan kebenaran. Kita semua tak ada yang tak pernah bersalah, keseharian berhias dosa adalah milik kita .... dan justeru karena itu mari berbenah sebelum dipanggil oleh-Nya ....

Siapa tahu, suatu saat SILN akan betul-betul memikat orang asing ......insya Allah.

Warm regards,
Esa

13 Desember 2008

Sekolah Berstandar Internasional

Sekolah bertaraf internasional memang diamanatkan oleh UU Nomor 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Diharapkan agar setiap pemerintah daerah memiliki minimal satu sekolah pada setiap jenjang (SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK)untuk didorong agar berkualifikasi internasional.

Apanya yang berlabel internasional? Ya, segalanya: SDM, fasilitas, kurikulum, pembelajaran, manajemen, networking/humas, kesiswaan. Pokoknya semuanya memiliki kualifikasi di atas standar nasional. Mimpi? Bisa ya, bisa tidak! Bagi pemerintah daerah yang memang dari 'sononya' sudah dilimpahi oleh sekolah-sekolah unggul, mungkin tak perlu pusing-pusing mendorong sekolahnya agar 'go international'. Namun jika sekolah-sekolah di suatu daerah memang hari-harinya penuh tawuran dan kebocoran/kerobohan gedungnya menjadi-jadi tentu wacana internasionalisasi sekolah ibarat jauh panggang dari api.

Berbagai strategi telah diterapkan pemerintah pusat dan pemda dalam konteks ini. Sejak dari yang namanya legislasi/payung hukum, penggelentoran dana, pendampingan manajemen, pelatihan pembelajaran, hingga kotak-katik model kurikulum dan penetapan negara-negara OECD sebagai benchmarking. Intinya memang bagaimana menjaga api semangat untuk terus memajukan pendidikan di republik agar tak gagap dengan hawa kekinian di seantero dunia. Meski hal ini memang ditingkahi dengan kondisi pragmatis pendidikan yang penuh liku-liku kondisi, dari yang terpuruk banget sampai ya itu tadi ingin berstandar internasional. Seolah-olah kalau semua sekolah sudah berlabel internasional, maka itulah muara 'mencerdaskan kehidupan bangsa'. Ya, seolah-olah ......

Padahal, seperti para pakar berkali-kali bicara, pendidikan kita harus mementingkan akhlak/budi pekerti/sikap yang baik. Beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa. Jika toh mengejar target berstandar internasional, maka jangan lupakan aspek akhlak ini. Depdiknas pun telah menggaris bawahi bahwa standar internasional perlu namun don't forget to the east culture. Bahwa kita menghirup udara Indonesia. Bahwa kita berbudaya Indonesia. Boleh para siswa cas cis cus piawai bekomunikasi dalam Bahasa Inggris, suasana kelas dan praktek diliputi oleh komunikasi Bahasa Inggris tapi tak berarti bahwa keramahan dan empati ala timur jadi luntur. Jepang dan Korea adalah teladan utama yang patut ditiru.