04 Mei 2018

Macet

Macet oh macet. Satu kata yang kini pun kurasakan, menyusuri jalan tol dalam kota Jakarta. Pada malam week end, minggu pertama Mei 2018. Diselingi alunan lagu lawas Bujangan karya grup legendaris Koes Plus. Udara lembab tanpa derai hujan menghiasi suasana malam itu. 

Jakarta, seperti umumnya kota-kota besar lainnya di dunia, sudah telanjur lengket dengan kesan macet. Sang ibu kota yang idealnya tidak macet, sehingga warganya merasa nyaman, tampaknya masih jauh panggang dari api.

Apa penyebab macet?. Ya, kebanyakan kendaraan, simpel. Dibandingkan dengan apa?. Ya dengan daya tampung jalan yang ada. Tak seimbang. Membanjirnya mobil, misalnya, bisa jadi karena makin banyak orang yang punya mobil. Mobil pribadi. Kalau diuraikan lebih panjang, maka jawaban penyebab macet bisa berderet: moda angkutan umum masih kurang dan belum nyaman, terbatasnya anggaran pembuatan jalan baru, MRT dan LRT belum selesai, nihilnya regulasi pengaturan kepemilikan mobil pribadi, dsb.

Lalu apa solusi mengatasi macet?. Untuk konteks Jakarta, tunjuk misal, apakah ibu kota pemerintahannya harus dipindahkan?. Untuk kota-kota lainnya yang sudah terjangkit penyakit macet seumpama Bandung, Surabaya, Medan, Bogor, dsb, apakah perlu perluasan kota?. Bangun semua desa kita sehingga tingkat urbanisasi berkurang dan pada gilirannya kota-kota bisa terkendali penambahan warganya. Beragam alternatif solusi dapat saja diungkapkan.